SMAN 1 Cibungbulang Peringati Isra Mi’raj 1447 H dengan Khidmat

Keluarga besar SMAN 1 Cibungbulang kembali menggelar peringatan hari besar Islam, Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriyah. Acara yang dipusatkan di lapangan sekolah ini menjadi momentum refleksi spiritual bagi seluruh siswa, guru, dan staf untuk memperkuat pilar ibadah di tengah kemajuan zaman.
Acara dibuka dengan hangat oleh Ibu Neneng Sumiati, S.Pd. selaku pembawa acara (MC). Suasana khusyuk seketika menyelimuti lokasi saat lantunan ayat suci Al-Quran berkumandang, disusul dengan pembacaan sholawat yang menggugah kecintaan kepada Rasulullah SAW. Kemeriahan syiar Islam semakin terasa berkat penampilan tim Hadroh/Marawis dari ROHIS SMAN 1 Cibungbulang. Dengan tabuhan rebana yang harmonis, tim ROHIS berhasil menghidupkan suasana dan mengajak seluruh hadirin untuk larut dalam pujian kepada baginda Nabi.
Dalam sambutannya, Kepala SMAN 1 Cibungbulang, Bapak Dede Heriyanto, S.Pd., M.Pd., menekankan pentingnya peristiwa Isra Mi’raj sebagai titik balik pembentukan karakter siswa. "Shalat adalah cerminan disiplin. Melalui peringatan ini, kami berharap siswa-siswi SMAN 1 Cibungbulang dapat mengimplementasikan nilai-nilai shalat dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam kejujuran maupun ketepatan waktu belajar".
Puncak acara yang dinantikan adalah ceramah agama yang disampaikan oleh Bapak H. Ahmad Khotib, S.Ag., M.Ag. Berbeda dengan ceramah pada umumnya, beliau menyajikan wawasan yang mencerahkan mengenai silsilah perintah ibadah kepada Allah SWT. Beliau menjelaskan bahwa meski perintah shalat lima waktu yang sempurna diterima oleh Nabi Muhammad SAW saat Mi'raj, esensi shalat sebenarnya sudah dilakukan oleh para Nabi terdahulu. Beliau memaparkan kisah bagaimana:
- Nabi Adam AS melakukan shalat syukurnya,
- Nabi Ibrahim AS dan doa-doanya yang menjadi bagian dari rukun shalat,
- Hingga Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS yang juga memiliki kewajiban bersujud kepada Allah dengan tata cara sesuai zamannya.
Perintah shalat secara historis dikaitkan dengan momen-momen syukur para Nabi terdahulu sebelum disempurnakan menjadi shalat lima waktu bagi Nabi Muhammad SAW. Perintah atau pelaksanaan shalat Subuh pertama kali dikaitkan dengan Nabi Adam AS.
Berikut adalah rincian singkatnya:
- Nabi Adam AS (Subuh): Diriwayatkan bahwa Nabi Adam AS melaksanakan shalat dua rakaat di waktu subuh. Rakaat pertama sebagai bentuk syukur karena terlepas dari kegelapan malam, dan rakaat kedua sebagai bentuk syukur atas datangnya cahaya siang (fajar).
- Nabi Ibrahim AS (Dzuhur): Melaksanakan shalat saat matahari tergelincir sebagai bentuk syukur atas penggantian putranya, Nabi Ismail AS, dengan seekor domba.
- Nabi Uzair AS (Ashar): Melaksanakan shalat sebagai syukur setelah dibangkitkan kembali oleh Allah SWT dari tidur panjang selama 100 tahun.
- Nabi Isa AS (Maghrib): Melaksanakan shalat saat matahari terbenam sebagai bentuk syukur karena telah selamat dari fitnah kaumnya dan menegaskan ketauhidan kepada Allah.
- Nabi Musa AS (Isya): Melaksanakan shalat saat tersesat di jalan menuju Mesir dan kemudian mendapatkan petunjuk serta perlindungan dari Allah SWT.
Bagi umat Islam, perintah shalat lima waktu yang kita kenal sekarang (dengan jumlah rakaat dan waktu yang pasti) secara resmi disatukan dan diwajibkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui peristiwa Isra Mi’raj. Ceramah tersebut memberikan wawasan bahwa ibadah shalat memiliki akar sejarah yang sangat panjang sejak manusia pertama."Ini membuktikan bahwa shalat adalah benang merah ketauhidan yang menyatukan seluruh ajaran para Nabi. Nabi Muhammad SAW kemudian menyempurnakannya bagi kita semua sebagai bentuk rahmat yang paling mulia," ungkap Bapak H. Ahmad Khotib dalam ceramahnya.
Peringatan Isra Mi’raj 1447 H ini diakhiri dengan doa bersama. Melalui narasi sejarah yang dibawakan, diharapkan warga SMAN 1 Cibungbulang tidak hanya menjalankan shalat sebagai kewajiban rutin, tetapi sebagai warisan agung yang telah dijaga oleh para utusan Allah sepanjang masa.

